Peran Perempuan dalam Perjuangan Sejarah
Ditulis Oleh Rizky Hadi*
Sejarah hari perempuan internasional sejatinya tidak dapat terlepas dari peran perempuan dalam memperoleh hak-haknya yang selama ini direnggut oleh system kapitalisme, dimana di system kapitalisme tersebut membuat tidak adanya emansipasi,perbedaan hak antara laki-laki dan perempuan, dan membentuk budaya patriarki. Perjuangan ini secara garis besar menuntut kesetaraan ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Perjuangan inipun tidak terlepas dari kondisi objektif yang menindas.
Sejarah perayaan perempuan tidaklah hanya eforia kaum perempuan dalam menuntut haknya dan kesetaraannya. Namun sejarah perempuan merupakan perjuangan kaum perempuan dalam merebut haknya yang dirampas.
Tidak ada pembebasan perempuan tanpa sosialisme, dan tidak ada sosialisme tanpa pembebasan perempuan. Gagasan tentang perayaan hari perempuan berkaitan dengan berkembangnya alat-alat produksi atau industri mengalami pergolakan dalam perkembangannya, sehingga represifitas terhadap buruh-buruh tidak terkecuali buruh perempuan, sering kali muncul. Dan ide-ide sosialis melatar belakangi sejarah pergerakan perempuan internasional tersebut.
Bermula pada demonstrasi tanggal 8 Maret 1857 oleh para buruh garment perempuan di New york, Amerika Serikat. Dimana mereka menentang kondisi tempat kerja yang tidak manusiawi dan upah yang rendah. tidak adanya hak cuti haid, dan melahirkan. Aksi tersebut berakhir dengan penyerangan polisi untuk membubarkan demonstran. Dan selang 2 tahun kemudian, dibulan maret para perempuan mendirikan serikat buruh sebagai upaya melindungi diri dan memperjuangkan beberapa hak dasar di tempat kerja.
Di tahun 1907, diadakannya permusyawaratan perempuan sosialis internasional yang pertama. Dimana gagasan tentang kesetaraan perempuan disegala bidang menjadi tema pokok dalam pertemuan itu.
Peringatan hari perempuan pertama kali di gagas oleh gerakan perempuan sosialis amerika serikat bersamaan dengan deklarasi Partai Sosialis AS, pada 28 Februari 1908, dengan demonstrasi besar-besaran menuntut hak pilih, hak berpolitik, dan hak ekonomi bagi perempuan. Dan tanggal 8 Maret 1908, sebanyak 15 ribu perempuan turun sepanjang kota new york dengan tuntutan diberlakukannya jam kerja yang lebih pendek, menuntut hak memilih dalam pemilu, dan menghentikan adanya pekerja di bawah umur. Dengan slogan “roti dan bunga” sebagai perlambang jaminan ekonomi, dan kesejahteraan hidup. Hingga Partai Sosialis AS mencanangkan hari minggu terakhir pada bulan februari untuk memperingati hari perempuan nasional.
Adalah Clara Zetkin, seorang aktivis hak-hak buruh perempuan dari anggota Partai Demokrat Sosialis Jerman, ialah orang yang memprakarsai hari perempuan Internasional. Dengan pidatonya pada Kongres Permusyawaratan Perempuan Sosialis Internasional kedua yang diikuti Partai Sosialis dari berbagai Negara. Dan pada tahun 1910 ia mengeluarkan resolusi untuk memproklamasikan 8 Maret sebagai hari perempuan internasional, dengan latar belakang demonstrasi tanggal 8 Maret 1908 di New York. Usul tersebut disambut hangat oleh 100 orang wakil-wakil organisasi perempuan dari 17 negara yang hadir. Dan untuk pertama kalinya hari perempuan internasional dirayakan di Negara-negara industri, seperti Jerman, Austria, Denmark, Finlandia, Swiss, dan AS, pada tahun 1911.
Penindasan terhadap buruh perempuan kerap kali berlangsung, dan tragedi pada tanggal 25 Maret 1911 menjadi gambaran tentang kondisi perempuan di tempat kerja. Kebakaran di New York yang mengakibatkan 140 buruh perempuan tewas, ini diakibatkan rendahnya jaminan keamanan. Tragedi ini berdampak besar terhadap direvisinya Undang-undang yang memberikan jaminan keamanan
Tahun 1914, di Jerman banyak pergolakan perempuan dalam menentang ancaman Perang Dunia 1, hingga berujung pada penangkapan tokoh perempuan yaitu Rosa Luxemburg. Kematian 2 juta tentara Rusia dalam peperangan, maka perempuan kembali melakukan aksi politik dengan melakukan mogok menuntut “roti dan perdamaian”. dalam aksinya perempuan tetap konsisten dalam memperjuangkan aspirasinya, walaupun para politisi menentang aksi tersebut.
Peran pekerja perempuan dalam menuntut haknya juga dilakukan pada tanggal 8 Maret 1917 di Russia, dibawah pimpinan Alexandra Kollontai, seorang feminis merah, dan buruh di pabrik. Adapun tuntutannya tentang perbaikan nasib dan tuntutan hak pilih bagi perempuan. Pemogokan yang dilakukan pekerja perempuan ini menyulut api perlawanan, sebab diikuti oleh kaum buruh dari pabrik-pabrik lainnya.
Tidak ada perjuangan yang sia-sia, kaum pekerja perempuan menuai hasil dari aksi politik yang ia lakukan di Rusia. selang empat hari kemudian, Tsar turun dari kursi kekuasaan dan pemerintahan sementara mengabulkan tuntutan hak pilih bagi perempuan. turunnya Tsar itu bertepatan dengan tanggal 8 Maret tahun 1917.
Pergolakan perlawanan perempuan semakin marak di belahan dunia, dan perlawanan itu tidak akan pernah berakhir sebelum penindasan kapitalisme masih berlanjut. Pencekalan terhadap memperingati hari perempuan sewaktu masa pemerintahan diktator Soeharto tidak menyurutkan pergolakan masa di saat sekarang.
*Penulis adalah anggota PRP Komite Kota Jakarta Raya dan anggota Jaringan Gerakan Mahasiswa (JGM)
Perjuangan Sutan Sjahrir
Judul: Pikiran dan Perjuangan Sutan Sjahrir; Penulis: Sutan Sjahrir; Editor: Ade Ma’ruf; Penerbit: Penerbit Jendela; Cetakan/Tahun: I/Juli 2000; Tebal: 194 + viii halaman; Harga Buku: Rp 22.500
MENGUTIP pendapat Ben Anderson dalam karyanya, Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance 1944-1945 (Cornell University Press, 1972), Manuel Kaisiepo (Kompas April 1999) pernah menulis bahwa Sjahrir dan para pengikutnya sesungguhnya berada di luar arus utama revolusi. Mereka adalah kelompok intelektual yang teralienasi dari arus bawah, sekalipun pada saat-saat tertentu mampu menggunakan pengaruhnya.
Sebagai sebuah interpretasi atas Sjahrir, pandangan ini merupakan revisi atas pandangan sebelumnya dari karya klasik George McTurnan Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia (1952). Kahin mengemukakan bahwa Sjahrir adalah tokoh yang paling berpengaruh, terutama pada hari-hari menjelang Proklamasi Kemerdekaan dan sesudahnya.
Sjahrir, demikian Kahin, adalah arsitek terjadinya pergeseran sistem pemerintahan pada bulan November 1945 dari sistem presidensial menuju parlemener. Dari sini, Kahin memang mengakui bahwa pandangannya lebih banyak dipengaruhi faktor kedekatan dan simpatinya pada tokoh revolusioner Republik Indonesia ini.
Demikianlah, banyak interpretasi atas Sjahrir, tokoh yang sering disebut “orang ketiga” setelah Soekarno dan Hatta, dan sebagai orang penting dalam sejarah pergolakan revolusi Indonesia. Bahkan selain Kahin, karya lain yang relatif spesifik membahas Sjahrir, di antaranya adalah Robert J Meyers dalam The Development of Indonesia Socialist Party (1959); Ben Anderson (1972/1977); John Legge, Intelectuals and Nationalism in Indonesia; A Study of The Following Recruited by Sutan Sjahrir in Occupation Jakarta (1988); Lindsay Ray, Sutan Sjahrir and The Failure of Indonesian Socialism (1993), dan-yang terbaru-dari Rudolf Mrazek, Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia (Cornell University, 1994).
Mereka itu begitu tertarik mempelajari tokoh pendiri Partai Sosialis Indonesia (PSI) ini. Entah mengapa. Yang pasti, di mata Legge, pemikiran Sjahrir tetap mempunyai makna dalam berbagai interpretasi. Seperti ditulis ulang Manuel Kaisiepo, makna pemikirannya di PSI, misalnya, bukan terletak pada perannya sebagai sebuah organisasi politik, melainkan pada fakta bahwa ia merepresentasikan suatu aliran moral dan politik yang bersumber dari kehidupan bangsa Indonesia. Banyak pikiran Sjahrir yang hingga hari ini masih hidup, dan menunjukkan resistensinya di antara gelombang politik amoral yang tumbuh dan sering mengatasnamakan reformasi ini.
***
SEPERTI dalam buku Pikiran dan Perjuangan ini, tampak begitu kuat pikiran Sjahrir menyuarakan kemauan kaum proletar untuk membebaskan diri dari kolonialisme. Dengan mengemukakan secara dalam akan taktik dan strategi perjuangan, Sjahrir berusaha menunjukkan jika gaya perjuangan rakyat Indonesia tak pernah dipengaruhi oleh siapa-siapa, kecuali dengan gaya dan kekhasannya sendiri.
Dan dari sinilah Sjahrir memotret bahwa perjuangan rakyat Indonesia adalah radikal-revolusioner. Dengan tegas ia mengatakan, Perjuangan rakyat kita pada hakikatnya bersifat revolusioner. Hal ini disebabkan tujuan dan alat-alat perjuangan juga revolusioner, serta membutuhkan perubahan prinsipil dari segala sifat kemasyarakatan. Bagaimanapun juga setiap gerakan revolusioner bermaksud memerdekakan masyarakat dari segala tradisi (kebiasaan) lama. (hlm 103-4).
Menurut Sjahrir, politik revolusioner adalah suatu politik yang ditujukan bagi perubahan radikal dan prinsipiil dari struktur masyarakat zaman ini. Politik revolusioner juga menggunakan segala alat perjuangan yang sesuai dengan keadaan masyarakat (hlm 104). Politik yang tidak diselenggarakan secara bernafsu dan terburu-buru, tetapi merupakan hasil olahan pemikiran yang mendalam dan matang.
Sjahrir bukan seorang Marxis, cara pandangnya justru banyak mengoreksi Marx. Dengan menjelaskan bentuk persahabatan antara Engels dan Marx, misalnya, ia selanjutnya berhasil mengelaborasi secara lebih luas makna “dialektika” (dialektiek) yang pernah ditunjukkan oleh kedua tokoh tersebut-bukan Marx yang berperan dalam menggalang ideologi Marxisme, tetapi Engels.
Engels justru banyak memformulasikan pikiran apa yang selanjutnya menjadi pikiran Marx (juga), tetapi Engels kurang begitu dikenal. Ia lebih banyak dikenal sebagai ahli bahasa.
Meski keduanya pernah berguru pada Hegel dalam hal “dialektika” ini, namun Marx-Engels memaknai dialektika tidak secara kaku sebagai thesa-antithesa-sinthesa, namun lebih lunak dan mengena. Pikiran Marx-Engels bukanlah pikiran Hegel, dan sebaliknya. Saat orang mengritik pikiran Hegel, misalnya, demikian Sjahrir (hlm 148), belum tentu orang mengenal pikiran Marx-Engels. Bukan sekadar dialektika-materialisme, tetapi juga dialektika sejarah.
Seperti kebanyakan para pemikir revolusioner dunia, Sjahrir juga tak hanya bicara soal politik revolusioner, tetapi juga soal kebudayaan dan sastra. Menurut dia, kesusastraan dan rakyat harus menjadi pokok perhatian semua pemuda di Indonesia yang bersemangat dinamis dan berikhtiar untuk mencapai kebudayaan baru (hlm 108).
Sjahrir menolak perbedaan antara zivilization dan kultuur yang dibuat orang Jerman. Dia berpendapat bahwa kebudayaan orang borjuis yang berasal dari Barat justru telah digunakan sebagai kebudayaan universal (peradaban).
Bagi Sjahrir, kebudayaan bukanlah barang mati, akan tetapi pusaka yang harus diarahkan lebih dulu untuk mendapatkannya. Jadi, warisan kebudayaan yang paling besar bukanlah berbentuk barang jadi, tetapi sejauh mana generasi kini memiliki kesediaan untuk mengalahkan (mengubah) kebudayaan lama. Jadi kebudayaan yang dinamis dan bukan kebudayaan yang status quo.
Kebudayaan (dan kesusastraan) harus dekat dengan rakyat. Mungkin dengan memakai gaya naturalisme yang pernah dikembangkan Zola, pelopor naturalisme. Naturalisme merupakan kebudayaan yang mampu menggambarkan rakyat banyak, dekat dengan perasaan rakyat. Keburukan dan kezaliman di tengah rakyat bisa digambarkan dengan sejelas-jelasnya, dengan bahasa yang amat sederhana dan mudah dicerna rakyat.
Menurut Zola, naturalisme tidak hanya menggambarkan, tetapi lebih digunakan untuk membuktikan suatu teori ilmu (hlm 114). Tentang hal itu, dengan penuh keyakinan Sjahrir mengemukakan jika saja buku Zola dan Gorki (murid Zola) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka akan banyak para peminatnya (hlm 116). Sebab karya Zola dan Gorki adalah karya sastra yang bernilai tinggi, menggambarkan kesengsaraan kaum miskin di Eropa.
Sjahrir punya penilaian bahwa Zola dan Gorki, juga Adama van Scheltema dan AM de Jong (Belanda), hanyalah sebuah ilustrasi, sebuah contoh. Rakyat Indonesia bisa menggali kekayaan sastra dan kebudayaannya sendiri.
Menurut saya, demikian Sjahrir, rakyat banyak yang tertarik pada hasil karya Zola bukan karena teori suatu ilmu, bukan pula karena riwayat Rougeon-Macquart dan keturunannya. Rakyat akan tertarik pada gambaran-gambaran Zola seperti dalam I’Assornmoi dan Germinal. Sebuah gambaran yang mendetail dan tajam menyoroti kesengsaraan kaum buruh.
***
BUKU Pikiran dan Perjuangan ini merupakan kumpulan tulisan Sjahrir tentang pergerakan kemerdekaan Indonesia, terutama yang banyak ditulis di surat kabar Daulat Ra’jat. Catatan-catatannya menunjukkan betapa ia amat mementingkan persatuan dan perdamaian untuk kemerdekaan.
Catatan-catatan Sjahrir tersebut juga memperlihatkan semangat yang menggelora dalam menentukan model gerakan dan perjuangan. Dia berpendapat, sebuah revolusi harus dipimpin oleh golongan demokratis yang revolusioner, bukan oleh golongan nasionalistis (yang oportunis) yang pernah membudak pada fasis kolonial Belanda, atau fasis militer Jepang.
Buku ini menjadi penting artinya bagi pendidikan generasi muda Indonesia hari ini, bahwa mereka pernah memiliki tokoh kaliber dunia: Sutan Sjahrir. Ia telah pergi meninggalkan Indonesia, meninggalkan kita semua, pada 9 April 1966 di Zurich, Swiss, dalam suasana yang trenyuh, karena masih berada dalam status tahanan. Manusia Indonesia tetap memperingatinya setiap 9 April.
Sejarah revolusi Rusia:
Revolusi tahun 1905
Oleh Tess Lee Ack
Teori-teori revolusioner tidak muncul secara spontan dalam otak para pemikir. Teori itu muncul sebagai akibat dari pengalaman praktis, terutama pengalaman perjuangan. Hal ini terbukti dalam revolusi tahun 1905. Seusai revolusi tersebut, Leon Trotsky mengkaji kembali pengalamannya, lantas merumuskan teori “revolusi permanen” yang meramalkan pola perkembangan revolusi tahun 1917. Sementara Rosa Luxemburg, yang juga ikut berperan dalam revolusi tahun 1905, menulis bukunya tentang pemogokan massa. Dan revolusi tahun 1905 itu sering disebut The Great Dress Rehearsal (latihan penutup) untuk perisitiwa tahun 1917.
Pada awal abad XX, pemerintahan Rusia dipegang oleh Tsar secara otokratik, tanpa lembaga-lembaga demokrasi apapun. Mayoritas besar penduduk adalah petani yang hidup dalam kondisi semi-feodal. Meski demikian, kapitalisme sudah agak mapan. Sebagian besar industri manufaktur diarahkan untuk memenuhi kebutuhan militer negara, tetapi ada industri garmen dan tekstil yang besar pula yang mempekerjakan banyak perempuan.
Kapitalisme berkembang di Rusia agak terlambat. Hal ini berakibat cukup paradoks: pabrik-parbrik yang ada di Rusia bersifat amat modern dan berukuruan besar. Kelas buruh masih relatif kecil, tetapi terkonsentrasi di tempat-tempat kerja modern, canggih dan besar — jauh berbeda dari pabrik-pabrik kecil yang menyifati tahap-tahap pertama revolusi industri di Inggeris. Inilah yang dijuluki oleh Trotsky sebagai fenomena “perkembangan gabungan”.
pekerja muda sudah melakukan perjuangan yang hebat. Pada tahun 1896 kaum buruh tekstil di ibukota St Petersburg menyelenggarakan pemogokan massa yang pertama. Dalam dua tahun berikutnya, jumlah aksi mogok bertambah dengan cepat. Namun pemerintah meresponnya dengan represi tajam, sedangkan ekonomi Rusia agak merosot, sehingga perjuangan buruh meredam lagi untuk sementara.
Waktu itu sudah ada kelompok-kelompok revolusioner, termasuk Partai Sosial Demokratik Buruh Rusia. Dalam partai tersebut timbul dua faksi yang namanya grup Bolsyevik dan grup Mensyevik (artinya “mayoritas” dan “minoritas”). Mereka sering terkena represi dan para pimpinan mereka tak jarang meringkuk, namun semakin berpengaruh dalam rakyat. Kepala kepolisian mengucapkan keprihatinannya atas pengaruh tersebut:
Selama 3-4 tahun ini, anak-anak Rusia kita yang dulu begitu gampang-gampangan, kian menjelma menjadi semacam unsur intelektual yang separo melek huruf; mereka merasa berkewajiban untuk meremehkan agama dan keluarga, tidak menggubris undang-undang yang ada, serta mentertawakan pihak yang berwenang.
Pada tahun 1904 Rusia berperang dengan Jepang. Mula-mula perang itu merangsang segelombang sentimen patriotis, sementara jumlah aksi mogok anjlok. Namun tidak lama lagi keantusiasan itu menyurut, karena rakyat harus menanggung biaya perang tersebut. Upah kaum buruh turun 25 persen. Di garis depan, para pimpinan militer melakukan kesalahan-kesalahan besar sehingga Rusia akhirnya kalah di medan perang.
Pada bulan Desember 1905 terjadi beberapa aksi mogok. Empat buruh dipecat. Kemudian kaum buruh menyelenggarkan sebuah pemogokan umum di ibukota. Seorang pendeta, Bapak Gapon, mengusulkan agar kaum pekerja pergi ke Istana, guna meminta pertolongan Tsar, yang saat itu masih dipercayai oleh rakyat. Para pekerja menysun sebuah petisi, yang memuat tidak hanya tuntutan ekonomi normatif tetapi juga tuntutan politik, seperti kebebasan berbicara, kebebasan pers, tanah untuk kaum penggarap, semacam parlemen, dan penyelesaian perang. Tuntutan ini mencerminkan pengaruh kaum sosialis revolusioner, dan agak melebihi apa yang dibayangkan si Bapak Gapon (yang sebenarnya seorang intel).
Pada tanggal 9 Januari 1905, ribuan buruh berbondong-bondong ke Istana. Banyak yang menyanyikan hymne-hymne serta membawa gambaran Tsar. Tsar menolak untuk bertemu mereka, lantas tentara menembaki massa. Seribu lebih orang kehilangan nyawa, dua ribu luka-luka. Hari itu kemudian dijuluki “Hari Minggu Berdarah”. Kaum buruh melakukan sebuah pemogokan umum di St Petersburg, yang kemudian meluas ke kota-kota lain. Satu ciri yang menyolok dari pemogokan tersebut adalah bahwa tuntutan ekonomi dan tuntutan politik bertumpang-tindih dan saling menguat. Banyak majikan yang terpaksa menyerahkan konsesi, dan di berbagai daerah kaum buruh memenangkan sejumlah hak politik. Partai-partai kiri dapat bergerak dengan cukup terbuka.
Pada bulan Agustus, Tsar menyetujui terbentuknya Duma, semacam parlemen. Namun Duma itu hanya dimaksudkan sebagai badan konsultatif, dan di situ kaum buruh tidak terwakili sama sekali. Di Petersburg dengan jumlah penduduk sebesar 1.4 juta, hanya 13.000 warga berhak mencoblos. “Konsesi” ini hanya membuat rakyat semakin marah, dan pada bulan Oktober terjadi gelombang aksi mogok lagi. Pemogokan tersebut melumpuhkan perusahaan kereta api dan kantor-kantor pos, sekolah-sekolah tutup, penyediaan gas dan air berhenti dan sistem komunikasi ambruk.
Perjuangan kaum buruh menjadi inspirasi bagi rakyat tertindas lainnya. Kaum tani mulai membakar rumah-rumah tuan tanah serta merebut tanah dan pangan. Prajurit-prajurit kecil memberontak. Kaum buruh perempuan yang telah terlibat dalam (dan tak jarang memimpin) aksi-aksi mogok, kemudian memberanikan diri untuk melawan penindasan seperti pelecehan seksual, serta menuntut hak cuti untuk mengasuh anak mereka.
Saat itu kaum buruh di ibukota mendirikan sebuah organ politik yang sangat efektif untuk mengorganisir perjuangan ekonomi dan politik. Organ ini bernama “soviet” (dewan buruh). Soviet itu berasal dari komite-komite aksi mogok di tempat-tempat kerja. Dewan ini sangat demokratik dan mewakili seluruh kelas buruh. Seperti dalam Komune Paris, para utusan dapat di recall sewaktu-waktu, dan gaji mereka tidak melebihi upah seorang pekerja terampil. Tetapi beda dengan Komune Paris tersebut, dewan ini berdasarkan atas para utusan dari tempat kerja, sehingga bersifat 100 persen proletarian. Dewan semacam itu muncul di seluruh Rusia dan mulai menantang kaum penguasa. Kaum buruh menganggap soviet-soviet itu sebagai pemerintah mereka.
Dan dewan-dewan itu memang merupakan semacam pemerintahan tandingan. Soviet-soviet tersebut dibentuk guna melayani kebutuhan-kebutuhan kaum buruh dalam perjuangan sehari-hari — seperti mengkoordinasi aksi mogok, meyebarkan informasi, serta mencari pangan, obat-obatan dan transportasi waktu industri dihentikan oleh pemogokan. Namun mereka lekas menjadi sebuah organ revolusioner.
Konsesi-konsesi tambahan dari Tsar gagal menenangkan kaum buruh, dan pada bulan November terjadi gelombang pemogokan yang ketiga. Dalam aksi bulan November, hari kerja 8 jam menjadi tuntutan utama. Sampai saat itu, kaum majikan bersikap kurang-lebih netral dalam pergolakan tersebut, karena mereka sendiri menginginkan reformasi politik tertentu, dan tidak keberatan kalau reformasi itu diperjuangkan oleh kaum buruh. Tetapi tuntutan tentang hari kerja 8 jam tidak mereka sukai. Mereka mulai menentang gerakan buruh secara agresif. Di saat yang sama, kepolisian dan pemerintahan lokal mengizinkan sekelompok preman rasis bernama “Ratusan Hitam” untuk menyerang para buruh.
Soviet di St Petersburg dibubarkan pada tanggal 3 Desember. Soviet di Moskow memberontak tetapi pemberontakan itu dihancurkan setelah perlawanan yang heroik selama 9 hari.
Selama tahun 1905, aksi buruh sering lebih maju daripada yang diharapkan oleh golongan revolusioner. Fenomena soviet tidak diramalkan oleh teori-teori kaum kiri. Soviet-soviet dibangun secara kurang-lebih spontan oleh kelas buruh, walau terpengaruh oleh pengalaman Komune Paris. Mula-mula Partai Bolsyevik malah tidak begitu antusias dengan dewan-dewan itu, yang dikira bertentangan dengan peran pemimpin partai. Di saat yang sama, golongan Bolsyevik masih berpegang pada cara-cara organisasi sempit dan konspiratif yang diajukan oleh Lenin dalam tulisannya Apa Yang Harus Dikerjakan? Tulisan itu terbit pada tahun 1903, saat kaum Bolsyevik harus bergerak di bawah tanah. Oleh karena itu, Lenin menganjurkan struktur-struktur ketat untuk sekelompok revolusioner professional, yang dikira akan membawa kesadaran revolusioner kepada kelas buruh “dari luar”. Banyak kader Bolsyevik cenderung meremehkan perjuangan normatif yang mereka anggap “apolitis”.
(Rosa Luxemburglah yang paling memahami bagaimana pemogokan massa yang normatif bisa berinteraksi dengan perjuangan politik dalam perkembangan revolusioner.)
Peristiwa-peristiwa tahun 1905 memaksa kaum Bolsyevik berubah sikap. Lenin (yang waktu itu di luar negeri) hampir segera melihat potensi dewan-dewan buruh, tetapi baru melalui perdebatan yang alot dia berhasil meyakinkan para aktivis partai. Kemudian partai Bolsyevik ikut terlibat dalam soviet-soviet dengan antusias. Sedang Lenin juga menghimbau agar kaum Bolsyevik “membuka pintu partai seluas-luasanya” dan menyambut ribuan buruh teradikalisasi yang mau masuk. Para buruh muda ini sangat penting untuk mengimbangi para kader lama yang terbukti terlalu konservatif dalam pergolakan tahun 1905.
Revolusi tahun 1905 membuktikan bahwa kelas kapitalis tidak ingin dan tidak mampu memimpin sebuah revolusi borjuis-demokratik. Mereka memang bekepentingan untuk menghilangkan sisa-sisa feodal dari ekonomi dan sistem politik, tetapi takut pada kekuatan revolusioner kelas buruh. Hal ini menjadi titik tolak untuk teori Revolusi Permanen, yang dirumuskan oleh Leon Trotsky berdasaran pengalaman pergolakan tahun 1905 itu. Menurut Trotsky, dominasi mode produksi kapitalis di tingkat global berarti bahwa perjuangan sosialis bisa mulai di Rusia. Kaum buruh tidak hanya harus memimpin perjuangan demokratik, tetapi dalam perjuangan itu mereka mesti berjalan lebih jauh dan mengembangkan revolusi ke arah sosialisme.
Kaum revolusioner harus banyak belajar dari perjuangan spontan kaum buruh. Meski begitu, sebuah partai revolusioner masih diperlukan. Partai Bolsyevik melakukan konsolidasi setelah kalahnya revolusi tahun 1905, sehingga pelajaran-pelajaran itu tidak terlupakan. Tanpa Partai Bolsyevik, revolusi Oktober 1917 tidak mungkin berhasil.












