Arsip untuk Mei, 2008
Ditulis oleh gmscrb di/pada Mei 26, 2008
Pemerintahan dalam suatu negara mempunyai fungsi untuk mengelola, melayani masyarakat dan mensejahterakan rakyatnya, tetapi itu tidak berlaku di Indonesia, pemerintah justru lebih cenderung menyengsarakan rakyatnya, ini bisa dilihat dan dibuktikan, salah satunya dengan dicabutnya subsidi BBM yang akhirnya harga BBM menjadi naik, kebijakan ini hanya menambah kesengsaraan masyarakat Indonesia. Kenapa…..? Pencabutan subsidi bukanlah kebijakan yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat, kebijakan yang tidak sama sekali pro terhadap rakyat, kebijakan yang cenderung mengarah kepada “PENYENGSARAAN RAKYAT“, kebijakan yang menunjukkan ketidak-mampuan pemerintah dalam mengatasi permasalahan ekonomi dan dalam memberikan kesejahteraan masyarakat. Dengan rencana kenaikkan BBM antara 25-30 %, harga kebutuhan pokok pun mengalami kenaikan, karena BBM adalah salah satu komoditas penting (vital). Ketika harga BBM mengalami kenaikan maka akan mempengaruhi aspek sosial lainnya, terlebih terhadap aspek yang bersifat ekonomis akan mengalami kenaikan harga pula. Dicabutnya subsidi BBM bagi rakyat, ditengah kondisi masyarakat yang miskin dan rendahnya daya beli masyarakat, lagi dan lagi akan membebani masyarakat, dengan alasan untuk menyelamatkan beban keuangan Negara (APBN) yang defisit, pemerintah seharusnya bisa mencari jalan keluar yang lebih memihak rakyat dengan upaya menjadikan rakyat sejahtera, mendorong ekonomi rakyat agar lebih mandiri sehingga memudahkan rakyat didalam meningkatkan taraf hidupnya. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam stetment dan pernyataan sikap | 1 Komentar »
Ditulis oleh gmscrb di/pada Mei 26, 2008
BBM Naik sama dengan Penyengsaraan Rakyat
Pemerintahan dalam suatu negara mempunyai fungsi untuk mengelola, melayani masyarakat dan mensejahterakan rakyatnya, tetapi itu tidak berlaku di Indonesia, pemerintah justru lebih cenderung menyengsarakan rakyatnya, ini bisa dilihat dan dibuktikan, salah satunya dengan dicabutanya subsidi BBM yang akhirnya harga BBM menjadi naik, kebijakan ini hanya menambah kesengsaraan masyarakat Indonesia. Kenapa…..?. Pencabutan subsidi bukanlah kebijakan yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat, kebijakan yang tidak sama sekali pro terhadap rakyat, kebijakan yang cenderung mengarah kepada “PENYENGSARAAN RAKYAT“, kebijakan yang menunjukkan ketidak-mampuan pemerintah dalam mengatasi permasalahan ekonomi dan dalam memberikan kesejahteraan masyarakat, dengan rencana kenaikkan BBM antara 25-30 %, harga kebutuhan pokok pun menjadi melambung naik, karena memang BBM adalah salah satu barang yang vital (penting), ketika BBM naik semua aspek social akan terpengaruh, terlebih aspek yang bersifat ekonomis akan menjadi naik. Kenaikan BBM dengan dicabutnya subsidi, ditengah kondisi masyarakat yang miskin dan bahkan dibawah garis kemiskinan, lagi dan lagi akan membebankan masyarakat, dengan alasan untuk menyelamatkan beban keuangan Negara (APBN) yang devisit, seharusnya pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan bukan kebijakan yang akhirnya dibebankan kepada rakyat, pemerintah harusnya harus bisa mencari jalan keluar yang lebih pro rakyat dengan upaya menjadikan rakyat sejahtera, mendorong ekonomi rakyat bisa lebih mandiri sehingga memudahkan rakyat di dalam melakukan kegiatan-kegiatan atau upaya-upaya perbaikan ekonomi rakyat. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam stetment dan pernyataan sikap | 1 Komentar »
Ditulis oleh gmscrb di/pada Mei 19, 2008
Senin , 19 Mei 2008 , 17:59:22 wib
Tolak Kenaikan BBM, Sita Harta Koruptor
Erwin Adriansyah
CIREBON, TRIBUN - Sekitar 100 mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos), Forum Diskusi Mahasiswa (Fordisma) Untag 45, PMII, KAMMI, Somasi, dan Presma Unswagati berunjuk rasa di Balaikota Cirebon, Senin (19/5).
Tuntutannya, menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), menangkap, mengadili, dan menyita harta para koruptor, serta memberlakukan pajak progresif.
Aksi itu diawali dengan orasi di depan Unswagati, Jalan Pemuda. Di lokasi itu, para pengunjuk rasa sempat melakukan aksi bakar ban yang berakibat terganggunya arus lalu lintas. Untungnya, aparat segera bertindakmengamankan situasi dan kelancaran arus lalu lintas.
Selanjutnya sambil berjalan beriringan dan membentangkan spanduk bertuliskan penolakan kenaikan BBM, para pengunjuk rasa bergerak ke Pendopo Bupati Cirebon, Jalan Kartini Kota Cirebon.
Sekitar pukul 11.00, pengunjuk rasa berjalan menuju Balaikota Cirebon. Di tempat ini, mereka kembali melakukan aksi bakar ban. Tanpa diduga para mahasiswa melompati pagar Balaikota dan memasuki areal kantor Pemerintah Kota Cirebon.
Di komplek bangunan bersejarah ini, para mahasiswa ingin bertemu dengan Walikota Cirebon, Subardi. Namun, Subardi tidak berada di tempat. Di Balaikota massa kembali dihadang polisi yang langsung dikomandoi Kapolres Kota Cirebon AKBP Mashudi.
Shandi, seorang pengunjuk rasa mengatakan, kenaikan BBM dapat menyengsarakan rakyat. Mayazhar, pengunjuk rasa lainnya, mengharapkan pemerintah berpihak kepada rakyat dengan tidak menaikkanharga BBM. (nip)
Sumber : TRIBUN JABAR
Ditulis dalam PRESS RELEASE | Leave a Comment »
Ditulis oleh gmscrb di/pada Mei 14, 2008
Filsafat Untuk Perjuangan Massa
I. Pengertian Filsafat
Filsafat berasal dari kata philos (cinta) dan shopia (kearifan, pengetahuan, dan kebijaksanaan). Jadi pengertian filsafat ialah cinta kepada pengetahuan, kearifan, dan kebijaksanaan. Orang yang cinta pengetahuan adalah orang yang selalu ingin tahu hakikat tentang gejala dan peristiwa alam dan sosial. Orang yang cinta kearifan adalah orang yang selalu menggunakan pengetahuan sosial (perasaan, pikiran, dan kepentingan masyarakat) sebagai pedoman bertindak dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial, dan orang yang cinta kebijaksanaan adalah orang yang selalu menguji pengetahuannya itu dengan praktek, atau orang yang membela kepentingan “orang-orang yang menderita”. Dengan demikian filsafat adalah ilmu berpikir yang bertumpu pada kehidupan nyata yang menghasilkan pengetahuan, kearifan, dan kebijaksanaan.
Pengetahuan ialah hasil tahu manusia mengenai sesuatu obyek, atau hasil tahu karena diberitahu orang lain. Tahu adalah hasil kerja otak setelah mengolah pengalaman inderawi, atau setelah diberitahu orang lain. Hasil kerja otak setelah mengolah pengalaman inderawi disebut pengetahuan langsung, sedangkan hasil kerja otak setelah diberitahu orang lain disebut pengetahuan tidak langsung. Pada umumnya manusia menggunakan pengetahuannya sebagai dasar bertindak untuk mencapai tujuan. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam ARTIKEL, REFERENSI | Leave a Comment »
Ditulis oleh gmscrb di/pada Mei 7, 2008
Amerika Latin Melawan Neoliberalisme
Dikirim oleh : antiglobalisasi
Pada tanggal : 24-02-2006, 19:08
nasional / globalisasi / other press
Hantu sosialisme sedang membayangi Amerika Latin. Proyek neoliberalisme yang mengibarkan panji Konsensus Washington gemetar di hadapannya.
”Mimpi buruk bagi Amerika Serikat (AS),” kata petani koka yang menjadi Presiden Bolivia Evo Moralles, dengan Gerakan Menuju Sosialisme (MAS).
Disusul Cile dari Partai Sosialis dalam koalisi kiri-tengah La Concertacion, Michele Bachelet. Presiden Bachelet, pendukung Salvador Allende yang dibunuh Pinochet pada kudeta ”Operasi Jakarta 1973”, sempat disiksa. Venezuela digenggam kolonel pensiunan, militer-progresif, Hugo Chavez. Brasil di tangan Luiz Inazio Lula da Silva dari Partido Trahabaldores (Partai Buruh).
Uruguay dipimpin Tabare Vasquez dari Frente Amplio (Broad Front). Alfredo Palacio memimpin Ekuador, sebelumnya wakil presiden kolonel kiri Lucio Gutierrez. Argentina dipimpin Nestor Kirchner dari Partai Peronis dengan platform politik kiri- tengah. Farabundo Marti National Liberation (FMLN), dari organisasi gerilyawan menjadi kekuatan politik kedua di El Salvador.
Sosialisme dan pemilu
Sosialisme apa ini? Beragam perspektif dan strategi pemerintah, dari participatory budgeting Lula hingga renta petrolera Chaves. Secara umum spektrum ideologis gerakan sosialis bergerak dari garis kontinum tengah dan kiri radikal menuju ke kiri tengah. Koalisi bernama Frente Amplio (Front Besar) di Uruguay dan La Concertacion di Cile merupakan cermin beragamnya elemen. Mereka menyebut ”keluarga kiri” karena yang terlibat Katolik/Kristen, intelektual bebas, Marxist, kiri-baru, serikat buruh, suku asli Indian, dan militer progresif, juga gerilyawan Uruguay, El Salvador, dan Bolivia. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam ARTIKEL, REFERENSI | 2 Komentar »
Ditulis oleh gmscrb di/pada Mei 7, 2008
Ernest Mandels
Gerakan Mahasiswa Revolusioner: Teori dan Praktek
Pengantar
Pada tahun 1968, seorang Marxist dari Belgia, Ernest Mandel berbicara di depan 33 perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Kanada, dari Harvard ke Berkeley dan dari Montreal ke Vancouver. Lebih dari 600 orang memadati Education Auditorium di New York University pada tanggal 21 September 1968 untuk menghadiri “Majelis Internasional Gerakan Mahasiswa Revolusioner”. Presenta¬si Mandel di tempat itu dipandang sebagai kejadian yang sangat menonjol oleh majelis dan salah satu saat penting dari seluruh perjalanannya. Pidato dan beberapa kutipan dari diskusi yang mengikutinya menjadi dua bagian pertama dari pamflet ini.
Pidato Mandel adalah polemik yang sangat hebat terhadap kecenderungan “aktivisme” dan “spontanisme”, yang belakangan ini muncul di kalangan kaum radikal di dunia Barat. Ia kemudian berbicara mengenai konsepsi Marxis tentang integrasi yang tidak terpisahkan antara teori dan praktek. Selama diskusi, Mandel menjawab sejumlah pertanyaan yang kontroversial di kalangan kaum radikal dengan argumen panjang lebar. Beberapa di antaranya berbicara tentang azas sosial ekonomi dari Uni Sovyet, “Revolusi Kebudayaan” di Cina, perlunya dibentuk sebuah partai Leninis, dorongan moral lawan dorongan material, dan banyak hal lainnya.
Bagian ketiga pamflet ini adalah pidato yang diberikan Mandel pada Seminar Ilmu dan Kesejahteraan yang diadakan di Universitas Leiden, Negeri Belanda pada tahun 1970, ketika sedang dilakukan perayaan 70 tahun universitas tersebut. Mandel berpen¬dapat bahwa kebutuhan kapitalisme saat ini akan tenaga kerja yang terlatih dalam jumlah besar merangsang ekspansi universitas yang cepat dan menghasilkan “proletarianisasi” tenaga intelektual, yang tunduk kepada tuntutan-tuntutan kapitalis dan tidak berhu¬bungan dengan bakat perorangan atau kebutuhan manusia.
Makin terasingnya tenaga kerja intelektual ini sedikit banyak menggerakkan perlawanan mahasiswa yang, walaupun tidak menduduki posisi sebagai pelopor kelas buruh, dapat menjadi picu peledak di dalam masyarakat luas. Menurutnya mahasiswa memiliki kewajiban menerjemahkan pengetahuan teoretis, yang mereka peroleh di universitas, ke dalam kritik-kritik yang radikal terhadap keadaan masyarakat sekarang dan tentunya relevan dengan mayoritas penduduk. Mahasiswa harus berjuang di dalam universitas dan di balik itu untuk masyarakat yang menempatkan pendidikan untuk rakyat di depan penumpukan barang. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam ARTIKEL, REFERENSI | Leave a Comment »
Ditulis oleh gmscrb di/pada Mei 7, 2008
PENGANTAR EKONOMI-POLITIK
Pengarang : Anonim
Kontributor : Ismail Barkah, 7 November 2002
Versi Online : Situs Indo-Marxist–Situs Kaum Marxist Indonesia!, November 2002
I. Produksi Barang-Barang Kebutuhan Adalah Basis Dari Kehidupan Sosial
Kita harus memulainya dari pemahaman yang sangat mendasar. Bahwa untuk mempertahankan dan melanjutkan hidupnya, manusia harus dapat mencukupi kebutuhan utamanya yaitu: makanan, pakaian dan tempat tinggal. Oleh karena itu manusia harus memproduksi semua kebutuhan-kebutuhannya. [1] Dalam proses produksi inilah, manusia menggunakan dan mengembangkan alat-alat produksi (alat alat kerja dan obyek kerja) disamping tenaga kerjanya sendiri. Dari mulai tangan, kapak, palu, lembing, palu, cangkul hingga komputer serta mesin-mesin modern seperti sekarang ini. Alat-alat produksi (ada teknologi didalamnya) dan tenaga kerja manusia (ada pengalaman, ilmu pengetahuan didalamnya) tidak pernah bersifat surut melainkan terus maju disebut sebagai Tenaga produktif masyarakat yaitu kekuatan yang mendorong perkembangan masyarakat.
II. Hubungan Produksi, Tenaga Produktif dan Cara Produksi
Dalam suatu aktivitas proses produksi guna memenuhi kebutuhannya manusia berhubungan dengan manusia lain. Karena Proses produksi selalu merupakan hasil saling hubungan antar manusia, maka sifat dari produksi juga selalu bersifat sosial. Saling hubungan antar manusia dalam suatu proses produksi ini disebut sebagai hubungan sosial produksi. Dari kegiatan produksi ini kemudian muncul kegiatan berikutnya yaitu distribusi dan pertukaran barang. Hubungan sosial produksi dalam sebauh masyarakat bisa bersifat kerja sama atau bersifat penghisapan. Hal ini tergantung siapakah yang memiliki atau menguasai seluruh alat-alat produksi (alat-alat kerja dan obyek kerja).
Hubungan sosial produksi dan tenaga produktif (alat-alat produksi dan tenaga kerja) inilah kemudian membentuk suatu cara produksi dalam suatu masyarakat. Misalnya cara produksi komunal primitif, perbudakan, feodalisme, kapitalisme dan sosialisme. Perubahan yang terjadi dari suatu cara produksi tertentu ke cara produksi yang lain terjadi akibat berkembangnya tenaga produktif dalam suatu masyarakat yang akhirnya mendorong hubungan produksi lama tidak dapat dipertahankan lagi dan menuntut adanya hubungan produksi baru. Inilah hukum dasar sejarah masyarakat dan merupakan sumber utama dari semua perubahan sosial yang ada. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam ARTIKEL, REFERENSI | Leave a Comment »
Ditulis oleh gmscrb di/pada Mei 7, 2008
IDEOLOGI SOSIALISME DAN KITA
*) F.R. Srivanto
I. Ideologi Sosialisme
Apakah ideologi sosialisme itu? Ideologi sendiri berasal dari bahasa Yunani yakni idea (gagasan) dan logos (studi tentang, ilmu pengetahuan tentang). Idelogi artinya sistem gagasan yang mempelajari keyakinan-keyakinan dan hal-hal ideal filosofis, ekonomis, politis dan sosial. Istilah “ideologi” dipergunakan oleh Marx dan Engels mengacu kepada seperangkat keyakinan yang disajikan sebagai obyek. Obyek tersebut tidak lain adalah pencerminan kondisi-kondisi material masyarakat.
Sosialisme sebagai ideologi, telah lama berkembang sejak ratusan tahun yang lalu. Sosialisme sendiri berasal dari bahasa Latin yakni socius (teman). Jadi sosialisme merujuk kepada pengaturan atas dasar prinsip pengendalian modal, produksi dan kekayaan oleh kelompok.
Istilah sosialisme pertama kali dipakai di Prancis pada tahun 1831 dalam sebuah artikel tanpa judul oleh Alexander Vinet. Pada masa ini istilah sosialisme digunakan untuk pembedaan dengan indvidualisme, terutama oleh pengikut-pengikut Saint-Simon, bapak pendiri sosialisme Prancis. Saint-Simon lah yang menganjurkan pembaruan pemerintahan yang bermaksud mengembalikan harmoni pada masyarakat.
Pada akhir abad ke-19, Karl Marx dan Friedrich Engels mencetuskan apa yang disebut sebagai sosialisme ilmiah. Ini untuk membedakan diri dengan sosialisme yang berkembang sebelumnya. Marx dan Engels menyebut sosialisme tersebut dengan sosialisme utopia, artinya sosialisme yang hanya didasari impian belaka tanpa kerangka rasional untuk menjalankan dan mencapai apa yang disebut sosialisme. Oleh karena itu Marx dan Engels mengembangkan beberapa tesis untuk membedakan antara sosialisme dan komunisme. Menurut mereka, sosialisme adalah tahap yang harus dilalui masyarakat untuk mencapai komunisme. Dengan demikian komunisme atau masyarakat tanpa kelas adalah tujuan akhir sejarah. Konsekwensinya, tahap sosialisme adalah tahap kediktatoran rakyat untuk mencapai komunisme, seperti halnya pendapat Lenin yang mengatakan bahwa Uni Sovyet berada dalam tahap sosialisme. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam ARTIKEL, REFERENSI | 7 Komentar »
Ditulis oleh gmscrb di/pada Mei 7, 2008
Politik Identitas
Tantangan Terhadap Fundamentalisme Moderen
1. Skenario Perbenturan Peradaban
Serangan tanggal 11 September oleh fundamentalis Islam terhadap lambang dominasi dunia Amerika di New York dan Washington telah secara masif menghidupkan kembali debat mengenai tantangan perbenturan peradaban di dunia. Argumentasi yang disampaikan oleh Samuel Huntington, bahwa kita sedang menghadapi sebuah perbenturan dapat dihindari antara peradaban-peradaban dunia, khususnya antara Islam dan Barat. Sebagai alasan krusial yang mendukung prospek yang tidak menyenangkan ini adalah adanya hipotesa bahwa dengan adanya peradaban dunia yang berbeda-beda saat ini, tidak dapat melewati batasan yang terbentuk dari semakin luasnya beberapa interpretasi tentang nilai-nilai politik mendasar untuk dapat hidup bersama.
Skenario peradaban yang saling berbenturan semakin mendapat kekuatan, hal mana dapat diterima bila melihat kejahatan yang dilakukan oleh satu kelompok etnik terhadap lainya di Yugoslavia yang runtuh atau kegiatan jaringan teror Bin Laden. Skenario ini telah menjadi sebuah paradigma untuk pandangan dunia baru, yang mengakibatkan goncangan di seluruh dunia, di kantor-kantor editorial, dalam berbagai seminar, sidang perencanaan dan rapat konsultasi politik, serta juga dalam pemikiran kekuatan-kekuatan yang ingin muncul yang mengharapkan mendapatkan keuntungan politik darinya.
Sebetulnya tidak mengherankan, banyak yang sudah mulai berperilaku seolah-olah model tersebut berlaku. Setiap pihak menganggap dirinya paling mengerti dalam menghadapi realitas yang disebutkan tadi, juga karena pihak-pihak lain melakukan hal yang sama sesuai dengan perkiraan yang ditentukan oleh model tersebut. Dengan demikian paradigma fundamentalisme dapat melebarkan sayapnya di luar penganut setianya. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam ARTIKEL, REFERENSI | Leave a Comment »
Ditulis oleh gmscrb di/pada Mei 7, 2008
Perkembangan Sosialisme Dari Utopi Menjadi Ilmu
Oleh Frederick Engels (1880)
I
Sosialisme modern pada hakekatnya adalah, di satu pihak, produk langsung dari pengakuan atas antagonisme-antagonisme kelas yang ada di dalam masyarakat sekarang antara kaum pemilik dengan kaum bukan-pemilik, antara kaum kapitalis dengan kaum buruh-upahan; di lain pihak, dari pengakuan atas anarki yang ada di dalam produksi. Tetapi, dalam bentuk teorinya, Sosialisme modern semula nampaknya seolah-olah sebagai perluasan yang lebih logis dari prinsip-prinsip yang diletakkan oleh ahli-ahli filsafat besar Perancis abad ke-18. Seperti setiap teori yang baru, Sosialisme modern juga mula-mula harus menghubungkan diri dengan persediaan-barang intelek yang telah tersedia, betapapun juga dalamnya akar-akarnya itu terletak di dalam fakta-fakta ekonomi materiil.
Orang-orang besar, yang di Perancis mempersiapkan pikiran orang-orang untuk revolusi yang mendatang, itu sendiri adalah kaum revolusionis yang ekstrim. Mereka tidak mengakui otoritet luar macam apapun juga. Agama, ilmu alam, masyarakat, lembaga-lembaga politik — segala-galanya kena kritik yang paling tidak kenal belas kasihan: semuanya harus membuktikan hak hidupnya di muka pengadilan akal atau melepaskannya. Akal menjadi satu-satunya ukuran bagi segala-galanya. Ini adalah masa ketika, seperti kata Hegel, dunia berdiri di atas kepalanya[1]; pertama dalam arti bahwa kepala manusia, dan prinsip-prinsip yang dicapai oleh pikirannya, dikatakan sebagai dasar dari segala tindakan dan pergaulan manusia; tetapi kemudian, juga dalam arti yang lebih luas bahwa realitet yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ini, sebenarnya, harus dijungkirbalikkan. Setiap bentuk masyarakat dan pemerintah yang ada pada waktu itu, setiap gagasan lama yang tradisionil dibuang ke dalam gudang barang rombengan sebagai tidak rasionil; dunia hingga kini telah membiarkan dituntun semata-mata oleh prasangka-prasangka; segala sesuatu di masa lampau hanya patut dikasihani dan dicemoohkan. Kini, untuk pertama kalinya, menyingsing fajar, kerajaan akal; mulai sekarang takhayul, ketidakadilan, hak istimewa, penindasan, harus diganti dengan kebenaran abadi, keadilan abadi, persamaan berdasarkan Alam serta hak-hak manusia yang tak dapat diganggu-gugat.
Kita sekarang tahu bahwa kerajaan akal ini tidak lebih daripada kerajaan borjuasi yang diidealisasi; bahwa Keadilan abadi ini menemukan realisasinya dalam peradilan borjuis; bahwa persamaan ini telah memerosotkan diri pada persamaan borjuis di muka undang-undang; bahwa hak milik borjuis telah diproklamasikan sebagai salah satu hak hakiki manusia; dan bahwa pemerintahan akal, Kontrak Sosial Rousseau, telah dan hanya bisa lahir sebagai suatu republik borjuis demokratis. Ahli pikir-ahli pikir besar abad ke-18, seperti juga pendahulu-pendahulu mereka, tidak dapat melampaui batas-batas yang diletakkan pada mereka oleh zaman mereka. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam ARTIKEL, REFERENSI | Leave a Comment »