2 Komentar

Filsafat Untuk Perjuangan Massa

Filsafat Untuk Perjuangan Massa

I. Pengertian Filsafat

Filsafat berasal dari kata philos (cinta) dan shopia (kearifan, pengetahuan, dan kebijaksanaan). Jadi pengertian filsafat ialah cinta kepada pengetahuan, kearifan, dan kebijaksanaan. Orang yang cinta pengetahuan adalah orang yang selalu ingin tahu hakikat tentang gejala dan peristiwa alam dan sosial. Orang yang cinta kearifan adalah orang yang selalu menggunakan pengetahuan sosial (perasaan, pikiran, dan kepentingan masyarakat) sebagai pedoman bertindak dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial, dan orang yang cinta kebijaksanaan adalah orang yang selalu menguji pengetahuannya itu dengan praktek, atau orang yang membela kepentingan “orang-orang yang menderita”. Dengan demikian filsafat adalah ilmu berpikir yang bertumpu pada kehidupan nyata yang menghasilkan pengetahuan, kearifan, dan kebijaksanaan.
Pengetahuan ialah hasil tahu manusia mengenai sesuatu obyek, atau hasil tahu karena diberitahu orang lain. Tahu adalah hasil kerja otak setelah mengolah pengalaman inderawi, atau setelah diberitahu orang lain. Hasil kerja otak setelah mengolah pengalaman inderawi disebut pengetahuan langsung, sedangkan hasil kerja otak setelah diberitahu orang lain disebut pengetahuan tidak langsung. Pada umumnya manusia menggunakan pengetahuannya sebagai dasar bertindak untuk mencapai tujuan.
Kearifan ialah pengetahuan sosial yang mengarahkan tingkah laku manusia. Manusia yang arif adalah manusia yang tingkah lakunya didasarkan pada pengetahuan sosial yang dimilikinya untuk kepentingan sosial, khususnya untuk kepentingan rakyat jelata yang menderita. Makin luas pengetahuannya makin arif perilakunya dan makin berpihak kepada kepentingan rakyat jelata yang menderita.
Kebijaksanaan ialah pengetahuan yang telah diuji oleh pengalaman praktek, sehingga manusia dapat memihak kepada rakyat jelata yang menderita. Orang bijaksana ialah orang yang mempunyai: (1) pendirian teguh, (2) pandangan yang obyektif, dan (3) sikap dan tindakan yang tegas memihak kepentingan rakyat jelata yang menderita.
Orang yang arif-bijaksana ialah orang yang perilakunya didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman yang disesuaikan dengan perubahan dan perkembangan kondisi lingkungan hidupnya. Atau orang arif-bijaksana adalah orang yang selalu bisa menempatkan diri di dalam segala tempat dan waktu dan selalu mampu memimpin perubahan dan perkembangan masyarakat. Atau orang yang berpihak kepada perasaan, pikiran, dan kepentingan rakyat jelata yang menderita. Orang arif-bijaksana ialah orang yang mengerti dan memahami filsafat, bahwa penderitaan sebagian besar orang adalah akibat dari penindasan sebagian kecil orang lain.
Hakikatnya filsafat yang diartikan sebagai cinta pengetahuan, kearifan, dan kebijaksanaan itu adalah:
 Ilmu tentang dunia (alam dan sosial), atau pendirian tentang alam dan sosial
 Pandangan tentang dunia (alam dan sosial) yang dinyatakan secara teori
 Metode berpikir untuk memecahkan masalah alam dan sosial
 Sikap hidup dalam menghadapi gejala-peristiwa alam dan sosial
 Pedoman untuk bertindak dalam menghadapi gejala-peristiwa alam dan sosial

II. Obyek Filsafat
Obyek filsafat ialah segala sesuatu yang ada dalam ruang dan waktu, yaitu perubahan dan perkkaembangan alam, manusia, dan masyarakat. Yang ada di dunia ialah alam dan manusia; binatang termasuk katagori alam. Interaksi manusia dengan alam melahirkan pikiran tentang alam, selanjutnya melahirkan pengetahuan, teori, dan ilmu alam. Interaksi manusia dengan manusia lainnya melahirkan pikiran tentang manusia dan masyarakat. kemudian melahirkan pengetahuan, teori, dan ilmu manusia dan ilmu masyarakat atau ilmu sosial yang didalamnya termasuk ilmu ekonomi, hukum, politik, dan ilmu budaya.
Aspek-aspek yang disoroti filsafat ialah: (1) aspek keberadaan atau ontologis, dan (2) aspek keseluruhan. Segala sesuatu yang dibicarakan harus diikuti oleh aspek keberadaan sesuatu; keberadaan merupakan dasar pemikiran filsafat. Di samping itu filsafat berusaha melihat obyeknya yang utuh, tidak dipecah-pecah; filasat tidak membahas obyek secara fragmentaris, tetapi secara integral dan saling berhubungan, konflik (kontradiksi), perubahan dan perkembangan, maka filsafat harus menggunakan logika dialektik.
Dalam filsafat banyak pendapat yang saling berbeda dan bertentangan, tetapi terus berkembang dan ada sesuatu kesatuan, yakni kesatuan analisis yang harmonis dan logis, artinya sesuainya apa yang dipikirkan dengan hal-hal yang kongkrit. Aspek ontologis dan keseluruhan itu harus dianalisis dan dipahami dalam hubungannya antara: (1) bentuk dan isi, (2) sebab dan akibat, (3) gejala dan hakikat, (4) keharusan dan kebetulan, (5) keumuman dan kekhususan.
Manusia harus berfilsafat karena ia memiliki otak (rasio), di samping emosi, dan kehendak. Emosi melahirkan keyakinan, keberanian, dan keindahan (estetika); kehendak melahirkan tindakan dan etika; dan rasio melahirkan logika dan ilmu. Oleh sebab itu dalam mengarungi samudera kehidupan manusia harus berfilsafat, artinya:
 Berpikir rasional, kritis, dialektik, holistik, kreatif, analitik atas segala sesuatu sehingga meperoleh arti atau makna tentang sesuatu itu.
 Berperilaku secara sadar dalam menghadapi gejala alam dan sosial; kesadaran itulah yang membuat manusia tidak mudah diombang-ambingkan oleh gejala/peristiwa alam dan sosial atau tidak mudah diombang-ambingkan masalah yang dihadapi.
 Menangkap ajaran dan pengertiannya secara ilmu, kemudian menerapkannya dalam praktek, selanjutnya mengambil pengalaman dari praktek dan menyimpulkan praktek itu secara ilmu.
 Mencari makna berdasar pada pengalaman hidup kongkrit di dunia dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi berikutnya; pengalaman itu direfleksi dan dicari arti atau maknanya kemudian disusun secara sistematis menjadi ilmu sebagai pedoman berpikir dan berperilaku.

III. Kegunaan Filsafat
Kegunaan filsafat ialah untuk memperoleh pengertian (makna) dan untuk menjelaskan gejala atau peristiwa alam dan sosial. Itu berarti orang yang berfilsafat harus berpikir obyektif atas hal-hal yang obyektif, bukan menghayal. Orang berfilsafat harus mampu menjelaskan hubungan antara sebab dan akibat, antara bentuk dan isi, antara gejala dan hakikat, kekhususan dan keumuman, kebetulan dan keharusan.
Untuk dapat menjelaskan saling hubungan hal-hal di atas, orang berfilsafat harus berpikir mendasar (radikal) dan kritis (mempertanyakan). Semua gejala alam dan sosial yang dapat diobservasi harus dicari hakikatnya; semua kejadian harus dicari sebabnya; semua yang nampak (yang mempunyai bentuk) harus dicari isinya; semua kejadian khusus harus dicari keumumannya; dan semua yang terjadi secara kebetulan harus dicari keharusannya. Artinya semua masalah harus bisa dipecahkan (atau diberi jawabannya); jika saat ini belum bisa dipecahkan (diberi jawabannya), maka harus dicari terus-menerus pemecahannya (jawabannya).
Berfilsafat itu penting, sebab dengan berfilsafat orang akan mempunyai pedoman untuk bersikap dan bertindak secara sadar dalam menghadapi berbagai gejala yang timbul dalam alam dan masyarakat. Kesadaran itu akan membuat seseorang tidak mudah digoyahkan dan diombang-ambingkan oleh timbulnya gejala-gejala atau problema-problema yang dihadapi.
Untuk dapat berfilsafat, manusia harus belajar filsafat dengan cara yang benar. Cara belajar filsafat yang benar adalah harus menangkap ajarannya dan pengertiannya secara ilmu, artinya mempelajai aliran-aliran filsafat, kemudian memadukan ajaran dan pengertian itu dengan praktek. Selanjutnya mengambil pengalaman dari praktek, dan kemudian menyimpulkan praktek secara ilmu.
Berfilsafat berarti bersikap dan bertindak secara sadar berdasarkan ilmu untuk menjelaskan secara rasional gejala-peristiwa alam dan sosial. Berfilsafat tidak bersikap dan bertindak secara tradisi, kebiasaan, adat-istiadat, dan naluri, tetapi bersikap dan bertindak kritis terhadap itu semuanya, mencari sebab, mencari isi, dan mencari hakikat dari itu semuanya. Berfilsafat juga tidak menerima takdir atau nasib begitu saja, tetapi mengubah nasib atau takdir dengan perbuatan.
Ilmu pengetahuan formal mempelajari struktur-struktur tertentu yang tidak berdasarkan pengalaman inderawi, tetapi berdasar kemampuan kerja otak. Ia membahas forma-forma (bentuk-bentuk) tertentu seperti matematika dan logika. Ilmu formal merupakan hasil kerja otak tanpa observasi kenyataan obyektif; ia lahir dari hasil kontradiksi ide atau dialektika ide, maka ia memiliki wilayah yang tidak terbatas samapi pada hal-hal yang metafisika (di luar kenyataan obyektif). Intinya ilmu pengetahuan formal ialah berpikir logis (logika).
Logika dapat dikatagorikan menjadi dua yaitu logika formal (logika bentuk) dan logika material (isi). Logika formal (bentuk) mencari penalaran yang logis dari berbagai bentuk premis (pernyatan); premis atau pernyataan menjadi dasar kesimpulan logis. Logika material (isi) mencari kebenaran melalui penjelasan hakikat materi; ia menangkap gejala kemudian mencari hakikatnya, atau menangkap bentuk kemudian mencari isinya, atau menangkap akibat kemudian mencari sebabnya. Perkembangan berpikir logis melahirkan filasafat.

IV. Sejarah Lahirnya Filsafat
Filsafat lahir dari keraguan (skeptis), kekaguman (keheranan), dan dari berpikir kritis (mempertanyakan) terhadap gejala-peristiwa alam dan sosial.
 Keraguan (skeptis): mendorong manusia mencari pemecahan atas sesuatu yang diragukan, tokohnya ialah dan Rene Descartes (1596-160), pendapatanya ialah “cogito ergo sum” artinya saya berpikir maka saya ada; ia tidak ragu-ragu lagi bahwa keberadaannya karena ia berpikir; pikiran menentukan keberadaan, atau ide menentukan materi.
 Kekaguman (keheranan): melihat kebesaran alam, manusia mencari prinsip dasar terjadinya alam; tokohnya:
o Thales (625-545 SM ) ia menjelaskan bahwa prinsip dasar alam ialah air
o Heraklitus (540-475 SM), ia menjelaskan bahwa prinsip dasar alam ialah api
o Anaximenes (538-480 SM), ia menjelaskan bahwa prinsip dasar alam ialah udara
o Empedokles (492-432 SM), ia menjelaskan bahwa prinsip dasar alam ialah tanah
Empat unsur inilah yang diyakini oleh para filosof Yunani tersebut di atas membentuk alam, di dalamnya termasuk manusia. Manusia adalah bagian dari alam. Pemikiran para filosof tersebut didasarkan pada hal-hal yang kongkrit yang dapat diobservasi. Paham tersebut dapat disebut “Materialisme Kuno”.
 Berpikir Kritis: tidak menerima begitu saja apa adanya; selalu mempertanyakan apa saja terutama sesuatu yang mapan (established); berpikir kritis tidak menggunakan asumsi terlebih dahulu.

V. Masalah Pokok Filsafat
Yang dimaksud masalah di sini adalah pokok perdebatan dalam aliran filsafat. Dalam pemikiran filsafat terdapat banyak aliran, tetapi yang paling banyak diperdebatkan adalah hubungan ide (pikiran) dan materi (kondisi obyektif). Hubungan ide dan materi menjadi pokok perdebatan para filosof, yaitu mana yang primer dan mana yang sekunder, ide atau materi. Perdebatan inilah yang melahirkan filsafat terbagi menjadi dua kubu yaitu kubu idealisme dan kubu materialisme (obyektivisme).
 Kubu Filsafat Idealisme
Yakni aliran filsafat yang memandang dan menyatakan bahwa ide atau pikiran sebagai hal yang primer dan materi atau keadaan obyektif sebagai hal yang sekunder. Itu berarti bahwa keadaan obyektif (sesuatu yang kongkrit itu ada) adalah hasil dari ide (pikiran). Tokohnya yang sangat terkenal adalah Plato (427-347 SM), ia menyatakan bahwa ide melahirkan materi (dunia).
 Kubu Filsafat Materialisme (Obyektivisme)
Yakni aliran filsafat yang memandang dan menyatakan bahwa materi (keadaan obyektif) adalah primer dan ide atau pikiran adalah sekunder. Itu berarti bahwa ide (pikiran) itu dilahirkan oleh keadaan obyektif; keadaan obyektif yang berupa otak itu ada, baru otak bekerja melahirkan pikiran. Tokohnya yang terkenal adalah Karl Marx (1818-1883), ia mengatakan bahwa: “keadaan sosial melahirkan kesadaran sosial” atau materi melahirkan ide.

Di samping dua kubu pokok di atas terdapat aliran filsafat Dualisme, yakni semua aliran filsafat yang memandang dan menyatakan ide (pikiran) dan materi (keadaan) adalah kedua-duanya primer, tidak ada yang sekunder. Pandangan ini tidak berdasarkan kenyataan, tetapi berdasarkan ide (pikiran) yang direkayasa (diadakan, dibuat oleh pikiran itu sendiri). Pada hakikatnya filsafat dualisme termasuk aliran filsafat idealisme.
Filsafat selalu mencerminkan watak dan mewakili kepentingan klas (golongan) tertentu dalam masyarakat. Oleh karena itu filsafat hakikatnya merupakan watak dari sesuatu klas (golongan). Golongan sosial dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu golongan yang memiliki alat produksi dan golongan yang tidak memiliki alat produksi.
 Filsafat Idealisme
Mencerminkan watak dan mewakili kepentingan klas pemilik alat-alat produksi, yang menindas dan menghisap. Mereka merekayasa dalam pikirannya bahwa kepemilikannya atas alat-alat produksi itu adalah merupakan “takdir atau kodrat” yang diberikan oleh kekuatan “supranatural”, atau merupakan hasil prestasi kerjanya sendiri.

 Filsafat Materialisme (obyektivisme)
Mencerminkan watak dan mewakili kepentingan klas yang bukan pemilik alat-alat produksi yaitu klas yang tertindas dan terhisap atau kaum buruh. Mereka sadar bahwa hasil kerjanya dimiliki oleh pemilik alat produksi; mereka diberi sebagian hasil kerjanya oleh pemilik alat produksi yang berupa upah (gaji) dalam sistem sosial kapitalisme. Dalam sistem sosial pemilikan budak, para budak bahkan tidak diberi bagian hasil kerjanya; para budak hanya diberi makan-minum untuk dapat melakukan pekerjaan karena para budak adalah alat produksi yang dimiliki oleh kaum pemilik budak. Dalam sistem sosial feodalisme, para tani hamba menerima hasil kerja atas putusan kaum feodal (pemilik alat produksi). Dalam masyarakat pemilikan budak alat produksinya adalah budak (manusia yang diperlakukan sebagai budak); dalam masyarakat feodalisme alat produksinya adalah tanah; dan dalam masyarakat kapitalisme alat produksinya adalah kapital.

Hakikatnya aliran filsafat yang utama ialah materi (kenyataan obyektif) dan ide (pikiran). Jika materi itu yang melahirkan ide, maka disebut filsafat materialisme. Jika ide itu melahirkan materi, maka disebut filsafat idealisme. Manusia bebas mengikuti salah satu dari dua aliran tersebut. Dalam menentukan pilihan untuk mengikuti salah satu aliran filsafat tersebut, pada umumnya manusia ditentukan oleh kondisi obyektif kehidupannya dan kebudayaannya.

VI. Tentang Logika
Ilmu pengetahuan formal mempelajari struktur-struktur tertentu yang tidak berdasarkan pengalaman inderawi, tetapi berdasar kemampuan kerja otak. Ia membahas forma-forma (bentuk-bentuk) tertentu seperti matematika dan logika. Ilmu formal merupakan hasil kerja otak tanpa observasi kenyataan obyektif; ia lahir dari hasil kontradiksi ide atau dialektika ide, maka ia memiliki wilayah yang tidak terbatas samapi pada hal-hal yang metafisika (di luar kenyataan obyektif). Intinya ilmu pengetahuan formal ialah berpikir logis (logika).
Logika dapat dikatagorikan menjadi dua yaitu logika formal (logika bentuk) dan logika material (isi). Logika formal (bentuk) mencari penalaran yang logis dari berbagai bentuk premis (pernyatan); premis atau pernyataan menjadi dasar kesimpulan logis. Logika material (isi) mencari kebenaran melalui penjelasan hakikat materi; ia menangkap gejala kemudian mencari hakikatnya, atau menangkap bentuk kemudian mencari isinya, atau menangkap akibat kemudian mencari sebabnya. Perkembangan berpikir logis melahirkan filasafat.

VII. Tentang Dialektika
Berpikir dialektik artinya berpikir tentang saling hubungan, kontradiksi, dan gerak (berubah dan berkembang). Ada dua macam berpikir dialektik yaitu dialektika idealis dan dialektika materialis. Dialektika idealis menjelaskan bahwa yang dialektik adalah ide atau pikiran. Sedangkan dialektika materialis menjelaskan bahwa yang dialektik adalah materi atau kondisi obyektif (alam dan sosial). Dalam kajian ini pokok bahasannya adalah berpikir dialetika materialis.
Dialektika ialah gerak dan saling hubungan. Materialis (kondisi obyektif) ialah segala sesuatu yang ada secara obyektif, dapat diobservasi dan dapat diverifikasi. Segala sesuatu yang secara obyektif ada mempunyai saling hubungan yang satu dengan yang lainnya, dan bergerak (berubah dan berkembang). Gerak (berubah dan berkembang) dalam pandangan dialektika materialis mempunyai tiga asas yaitu kontradiksi, perubahan kuantitas ke kualitas, dan negasi dari negasi. Kontradiksi memberi jawaban tentang pertanyaan mengapa sesuatu itu berubah dan berkembang; perubahan kuantitas ke kualitas memberi jawaban tentang bagaimana sesuatu berubah dan berkembang; dan negasi dari negasi memberi jawaban tentang kemana arah berubah dan berkembangnya materi
(Prabowo)

*****

About these ads

2 comments on “Filsafat Untuk Perjuangan Massa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: